Jumat, 25 Februari 2011

Asuhan Kebidanan pada ibu hamil dengan plasenta previa parsial

1. Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi di sekitar segmen bawah rahim sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh osteum uteri internum.
(Dikutip dari : Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.2005.Jakarta)
Secara klinis ada empat derajat abnormalitas plasenta yang diketahui, yaitu :
a. Plasenta previa totalis adalah plasenta menutupi seluruh osteum uteri internum.
b. Plasenta previa parsialis adalah osteum uteri internum tertutup sebagian oleh jaringan plasenta.
c. Plasenta previa marginalis adalah tepi plasenta berada disekitar pinggir osteum uteri internum.
d. Plasenta letak rendah adalah plasenta tertanam dalam segmen bawah uterus sehingga tepi plasenta sebenarnya tidak mencapai osteum uteri internum tetapi terletak sangat berdekatan dengan osteum tersebut.
(Dikutip dari : Buku Obstetri Williams edisi 18)
2. Etilologi
Implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat disebabkan oleh :
a. Endometrium difundus uteri belum siap menerima implantasi
b. Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu memberikan nutrisi ke janin.
c. Vili korealis pada khoiron leave yang persisten
Mengapa plasenta bertumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu jelas dapat diterangkan. Bahwasanya vaskularisasi yang berkurang, atau perubahan atrofi padaa desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa, tidaklah selalu benar, karena tidak nyata dengan jelas bahwa plasenta previa di dapati untuk sebagian besar pada penderita dengan paritas tinggi.
Menurut Singh, dkk (1981), misalnya menemukan plasenta previa pada 3,9% wanita yang pernah mengalami persalinan sesarea bila dibandingkan dengan angka 1,9% untuk keseluruhan populasi obstetrik. Faktor lainnya adalah plasenta yang besar sehingga membentang dan meliputi daerah uterus yang luas sebagaimana terlihat pada eritoblastosis fetalis dan pada janin yang lebih dari satu.
(Dikutip dari buku Obstetri Williams edisi 18)
Kloosterman di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (1973), mengatakan frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur lebih dari 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun, pada grande multipara yang berumur lebih dari 35 tahun kira-kira empat kali lebih sering dibandingkan dengan grande multipara yang berumur kurang dari 25 tahun.
(Dikutip dari buku Ilmu Kebidanan edisi 3)

3. Gejala dan Tanda
Gejala utama dan pertama dari plasenta previa adalah perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri, dan biasa terjadi pada kehamilan usia sekitar 28 minggu atau mendekati akhir trimester kedua atau sesudahnya. Perdarahan ini biasanya terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat faal. Akan tetapi, perdarahan berikutnya hampir-hampir selalu lebih banyak daripada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam.
Darahnya berwarna merah segar, berlainan dengan darah yang disebabkan oleh solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitamaan. Sumber perdarahannya ada sinus uterus yang terobek karana terlepasnya plasenta dari dinding uterus.
(Dikutip dari buku Obstetri Williams edisi 18)



4. Penatalaksanaan
Plasenta dengan plasenra previa dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok, yaitu :
1. Kelompok dengan janin prematur tetapi tidak terdapat kebutuhan yang mendesak untuk melahirkan janin tersebut.
2. Kelompok dengan janin dalam waktu 3 minggu menjelang aterm
3. Kelompok yang berada dalam proses persalinan
4. Kelompok dengan perdarahan yang begitu hebat sehingga uterus harus dikosongkan meskipun janin masih imatur.
Penatalaksanaan kehamilan yang disertai komplikasi plasenta previa dan janin prematur tetapi tahap perdarahan aktif, terdiri atas penundaan persalinan dengan menciptakan suasana yang memberikan keamanan sebesar-besarnya bagi ibu maupun bayinya. Pada penundaan persalinan, salah satu keuntungan yang kadang kala dapat diperoleh meskipun relatif terjadi kemudian dalam kehamilan adalah migrasi. Plasenta yang cukup jauh dari serviks, sehingga plasenta previa tidak lagi menjadi permasalahan utama. Prosedur yang dapat dilakukan untuk melahirkan janin bisa digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu persalinan sesarea dan pervaginam. Logika untuk melahirkan lewat bedah sesarea ada dua :
1. Persalinan segera janin serta plasenta yang memungkinkan uterus untuk berkontraksi sehingga perdarahan berhenti.
2. Persalinan sesarea akan meniadakan kemungkinan terjadinya laserasi serviks yang merupakan komplikasi serius persalinan pervaginam pada plasenta previa totalis serta parsialis.
Logika untuk melahirkan pervaginam adalah dengan harapan cara ini dapat menekan plasenta yang lepas pada tempat implantasi yang mengalami perdarahan selama persalinan dan dengan demikian menjadi tampan yang cukup baik bagi pembuluh darah yan ruptur sehingga perdarahan hebat bisa dicegah.
Ada empat metode kompresi atau penamponan untuk persalinan pervaginam, meskipun hanya pemecahan ketuban secara sederhana pada kasus plasenta previa parsialis yang kini digunakan secara luas.
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGIS
TERHADAP Ny. “S”
DENGAN PERDARAHAN ANTE PARTUM (APH)


I. Pengumpulan Data Dasar tanggal 12-07-2006
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama : Ny. Susi Nama : Tn. Wanto
Umur : 21 tahun Umur : 23 tahun
Pendidikan : SLTA Pendidikan : S1-Manajemen
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Jawa Suku : Jawa
Alamat : Jl Dahlia No.23 Alamat : Jl. Dahlia No.23
15 Polos 15 Polos

2. Keluhan Utama
Ibu datang jam 16.30 WIB.
Ibu G1P0A0, hamil 30 minggu, datang dengan keluhan perdarahan pervaginam pukul 14.00 WIB  250 cc, warna darah merah segar, perut tidak sakit.

3. Riwayat Haid
Menarche : Umur 12 tahun
Siklus : 28 hari
Banyaknya : Normal (3-4 x ganti softex)
Lama haid : 5-7 hari
Keluhan : tidak ada
HPHT : 29-12-2005
HTP : 06-10-2006
4. Riwayat Kehamilan
a. Trimester I
ANC 2 x dirumah bidan (BPS)
Keluhan : Mengalami ngidam yaitu perut mual, nafsu makan berkurang.
b. Trimester II
ANC 2 x di BPS
Keluhan : Tidak ada, hanya kontrol rutin
Menurut bidan yang memeriksa, ibu dan bayi dalam keadaan sehat.
c. Trimester III
ANC 1 x saat ini
Keluhan : Ibu mengatakan perdarahan pervaginam  250 cc darah berwana merah segar, tidak ada nyeri pada abdomen.

5. Riwayat Perkawinan
Menikah : 1 kali
Umur waktu menikah : 20 tahun
Lama Perkawinan : 1 tahun

6. Riwayat Penyakit
a. Riwayat Kesehatan ibu
Ibu tidak pernah menderita penyakit berat yang membutuhkan perawatan khusus.
b. Riwayat Kesehatan keluarga
Dalam keluarga ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menular atau penyakit keturunan yang dapat mempengaruhi kehamilannya. Dalam keluarga istri atau suami tidak ada riwayat anak kembar.


7. Pola Kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
Sebelum Hamil : Makan 3 x sehari, nasi, sayur, lauk-pauk, kadang-kadang susu.
Sesudah Hamil : Nafsu makan biasa hanya porsi makan dikurangi terutama nasi, banyak makan sayur.

b. Eliminasi
Sebelum Hamil : BAB 1 x/hari (pagi
BAK 4-5 x/hari
Sesudah Hamil : BAB 1 x/hari (pagi)
BAK 6-8 x/hari
c. Istirahat tidur
Sebelum Hamil : Tidur 7-8 jam/hari
Sesudah Hamil : Tidur 5-6 jam/hari, terbangun karena BAK dan sulit tidur lagi karena badan terasa panas dan banyak keringat.
d. Personal Hygiene
Sebelum Hamil : Ibu mandi 2x sehari, ganti pakaian dalam 2 x sehari
Sesudah Hamil : Ibu mandi 3 x sehari, ganti pakaian dalam 3 x sehari.
e. Olahraga
Ibu sering jalan pagi
f. Seksualitas
Sebelum Hamil : Hubungan seksual dilakukan 2-3 x dalam seminggu atau sesuai dengan kebutuhan bersama.
Sesudah Hamil : Hubungan seksualita dilakukan 1-2 x dalam seminggu dengan posisi pilihan ibu.

g. Psikologis
Ibu mengatakan cemas, karena pengeluaran darah segar dari kemaluannya dan tidak terasa sakit.
h. Data sosial ibu :
1. Ibu masih tinggal di rumah mertua dengan keadaan ekonomi sedang.
2. Kehamilan ini direncanakan dan diinginkan
3. Respon terhadap kehamilan ibu dan keluarga senang dengan kehamilan ini.
4. Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas tidak ada.

B. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Komposmentis
Tanda-tanda vital
TD : 110/70 mmHg
Pols : 80 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 370 C
Tinggi badan : 156 cm
BB sebelum hamil : 50 kg
BB sesudah hamil : 62 kg
Pertambahan BB selama hamil : 12 kg

2. Pemeriksaan Kebidanan
a. Inspeksi
Rambut : Hitam, tidak rontok dan bersih tidak ada ketombe
Mata : Tidak ada oedem, konjungtiva agak pucat, sklera tidak ikterik, fungsi penglihatan baik.
Hidung : Tidak ada polip, tidak ada sekret, fungsi penciuman baik
Mulut : Bersih, tidak ada sariawan, tidak ada caries gigi
Telinga : Bersih, tidak ada serumen, fungsi pendengaran baik
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis
Payudara : Payudara membesar, simetris kanan dan kiri, tidak terdapat benjolan dan sudah mengeluarkan colostrum.
Abdomen : Membesar sesuai dengan usia kehamilan, tidak ada bekas operasi, terdapat linea nigra, tidak ada nyeri abdomen.
Ekstremitas atas : simetris kanan dan kiri, normal, tidak ada oedem
Ekstremitas bawah : Simetris kanan dan kiri, normal, tidak ada oedem, tidak ada varises
Genetalia : Tampak ada perdarahan dengan warna merah segar, baunya amis dengan volumenya  250 cc
b. Palpasi
1. Leopold I : TFU 30 cm
TBJ : (TFU-12) x 155 gram
: (30-12) x 155 gram
: 2790 gram
2. Leopold II : Perut sebelah kanan teraba lebar dan memanjang, berarti puka (punggung kanan)
3. Leopold III : Bagian terendah janin adalah kepala dan belum masuk PAP, pada atas sympisis teraba bantalan yang mengalami kepala masuk PAP yaitu plasenta.
4. Leopold IV : Tidak dilakukan

c. Auskultasi
DJJ terdengar antara pusat-sympisis sebelah kanan yaitu 128 x/menit dantidak teratur
d. Perkusi
Reflek patela kanan dan kiri baik

3. Pemeriksaan Laboratorium
a. HB : 10 gr%
b. Golongan darah : Aa

4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan USG pada tanggal 13-07-2006
Plasenta berada di bagian bawah dan menutup sebagian jalan lahir yang biasa disebut plasenta previa parsialis.

II. Interpretasi Data Dasar
1. Diagnosa
Ibu G1P0A0 hamil 37minggu, janin tunggal hidup, letak kepala, intra uterin dengan plasenta previa parsialis.
Dasar :
a. Ibu mengatakan hamil 8 bulan masuk 9 bulan
b. Ibu mengatakan keluar darah segar pervaginam banyak dan perut tidak nyeri.
Data Obyketif :
a. Pada pemeriksaan palpasi
Leopold I : TFU 30 cm
Leopold II : Punggung kanan (puka)
Leopold III : Kepala belum masuk PAP, pada atas sympisis teraba bantalan (plasenta)
b. Tampak perdarahan banyak  250 cc, darah berwarna merah segar (tidak menggumpal) dan baunya amis.
c. Perut tidak ada kontraksi
d. Hasil pemeriksaan USG.
2. Masalah
a. Cemas
Dasar :
Data subyektif : Ibu mengatakan cemas dengan kehamilannya karena
Data Obyektif : Tampak ibu mengeluarkan darah segar pervaginam  250 cc
b. Anemia ringan
Dasar :
Data subyektif : Ibu mengatakan mengeluarkan darah dari kemaluan  250 cc
Data Obyektif :
a. Tampak perdarahan pervaginam  250 cc
b. Warna darah merah segar
c. Pemeriksaan HB 10 gr%

3. Kebutuhan
a. Dukungan mental
Dasar :
DS : Ibu mengatakan cemas dengan kondisinya saat ini
DO : Ibu tampak cemas dan takut
b. Pemenuhan cairan dan nutrisi
1. Pasang Infus
2. Pasang O2
c. Rujuk segera
Dasar :
DS :
a. Ibu mengatakan mengeluarkan darah segar  250 cc dan tidak ada nyeri abdomen.
DO :
a. G1P0A0 hamil 37 minggu
b. Perdarahan pervaginam  250 cc
c. Warna darah merah segar
d. DJJ 128 x/menit, tidak teratur

III. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
a. Potensial terjadi shock hypovolemik pada ibu
Dasar :
DS : Ibu mengatakan mengeluarkan darah dari kemaluan  250 cc
DO : Perdarahan tampak merembes dan warnanya merah segar
b. Potensial terjadi tekanan pada kromial bayi
Dasar :
DS : Ibu mengartakan gerakan janin berkurang
DO : Plasenta yang menutupi sebagian jalan lahir dari hasil USG

IV. Membutuhkan tindakan segera dan kolaborasi
a. Pasang infus
b. Pasang O2
c. Siapkan donor darah dari keluarga yang golongan darahnya A
d. Merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya
e. Kolaborasi dengan dokter DSOG untuk tindakan operatif

V. Rencana Manajemen
1. Jelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini
a. Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan
b. Jelaskan kondisi kehamilan ibu saat ini
2. Observasi pengeluaran perdarahan pervaginam dan tanda-tanda vital
a. Ganti softex bila basah
b. Pantau DJJ secara rutin
3. Penyuluhan kebutuhan istirahat pada ibu
a. Anjurkan ibu untuk tirah baring
b. Anjurkan ibu untuk miring kiri
4. Memberikan dukungan psikologi pada ibu
a. Ajarkan teknik relaksasi pada ibu untuk mendapatkan kenyamanan
b. Libatkan anggota keluarga untuk memberikan dukungan psikologis ibu
5. Penyuluhan tentang gizi dan nutrisi pada ibu hamil
a. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi
b. Beri ibu tablet fe dan vitamin C
c. Anjurkan ibu untuk makan dalam porsi sedikit tapi sering
6. Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi
Pemberian intake yang cukup karena adanya perdarahan
7. Jelaskan pada ibu bahwa ibu tidak dapat melakukan persalinan normal tetapi harus dengan seksio sesarea
8. Mengevaluasi apakah ibu sudah mengerti dan mengetahui tentang kondisinya dan kehamilannya.

VI. Implementasi Langsung
1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan
a. Menjelaskan kondisi ibu dan kondisi ibu dan kehamilannya yang mengalami komplikasi pada implantasi plasenta
b. Mengajurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG
c. Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan untuk rajin memeriksakan kehamilannnya.
2. Mengobservasi keadaan ibu dan janin
a. Mengobservasi volume perdarahan, warnanya dan baunya
b. Memantau DJJ
3. Penyuluhan kebutuhan istirahat pada ibu
a. Menyarankan ibu untuk tidah baring
b. Beritahu ibu untuk tidak melakukan kerja yang berat misalnya mencuci baju, ngepel.
c. Menjelaskan kepada ibu untuk miring ke kiri untuk memberikan oksigenisasi kepada janinnya.

4. Penyuluhan tentang kebutuhan gizi dan nutrisi pada ibu hamil.
a. Menjelaskan kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang.
b. Memberikan ibu tablet Fe dan vitamin C
5. Memberikan dukungan psikologis pada ibu
a. Mengajarkan teknik relaksasi kepada ibu agar ibu mendapat kenyamanan
b. Melibatkan anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada ibu
6. Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi
a. Pemberian pemasukan cairan dan nutrisi yang cukup karena adanya perdarahan
b. Menyarankan ibu untuk sering makan dan minum walaupun sedikit.

VII. Evaluasi
1. Ibu mengerti tentang kondisi kehamilannya saat ini bahwa ibu mengalami sebuah komplikasi dalam kehamilannya, dimana plasenta menutupi sebagian jalan lahir.
2. Ibu mengerti apa yang ia lakukan jika terjadi perdarahan kembali dan ibu mengerti tentang perdarahan yang dialami.
3. Ibu mengerti tentang kebutuhan gizi dan nutrisi bagi ibu hamil
4. Ibu mengerti tentang pentingnya istirahat total atau tirah baring
5. Ibu mengerti tentang pentingnya pemenurhan cairan dan nutrisi
6. Ibu mau mengikuti dan melakukan saran dari bidan.


DAFTAR PUSTAKA



1. Sarwono, Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Tridasa Printer

2. Sarwono, Prawirohardjo. 2005. Buku Acuan Nasional, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Tridasa Printer

3. Cunningham, MacDonald, Gant. 1995. Obstetri Williams, Edisi 18. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar