Sabtu, 27 November 2010

makalah asfiksia neonatorum

MAKALAH
ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS
ASFIKSIA NEONATORUM PADA BAYI BARU LAHIR”
DOSEN PENGAMPU ISY ROHAYATI ,S.SiT








Di susun oleh :
  1. Anis Setyowati
  2. Iva luqmawati
  3. Siti Sarah Hardianti
  4. Tri puji lestari
  5. Tri Walyani
  6. Yeviana Rizqi


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
PRODI D III KEBIDANAN
SEMARANG
2009 / 2010


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah berkenan memberi petunjuk dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Asfiksia Neonatorum pada Bayi Baru LahirDalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak sekali mendapat bantuan, dukungan moril maupun materi dari berbagai pihak dan pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Isy Rohayati S.SiT selaku dosen pembimbing dan kepada teman-teman yang sudah memberikan bantuan dan masukan sehinnga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan yang terbaik, namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun dari pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.


Penulis









BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir (Prawiro Hardjo, Sarwono, 1997). Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak bisa bernafas secara spontan dan adekuat (Wroatmodjo,1994). Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini biasanya disertai dengan keadaan dimana hipoksia dan hiperkapnea serta sering berakhir dengan asidosis (Santoso NI, 1992).
Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur  pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia (Pa CO2 meningkat) dan asidosis.
Menurut Hanifa Wiknjosastro (2002) asfiksia neonatorum didefinisikan sebagai keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2 (A.H Markum, 2002).
Menurut survei demografi dan kesehatan Indonesia 2002 – 2003, angka kematian neonatal sebesar 20 per 100 kelahiran hidup. Dalam satu tahun sekitar 89.000 bayi berumur dibawah 1 bulan meninggal. Artinya setiap 6 menit ada 1 bayi meninggal. Asfiksia merupakan salah satu penyebab utama kematian neonatal (27%) setelah BBLR (29%).
Secara umum penyebab asfiksia dibagi dalam 3 faktor: faktor ibu, faktor tali pusat dan faktor bayi itu sendiri seperti: bayi prematur(<37 minggu), persalinan dengan tindakan (rangsang, bayi kembar, distonsia bahu, ekstrasi vakum, forcep), kelahiran bawaan dan air ketuban bercampur mekonium.
Pertolongan persalinan dengan tenaga kesehatan telah mencapai 73,14% (profil kesehatan Indonesia, 2003) dan sebagian besar persalinan tersebut dilakukan oleh Bidan. Bidan sebagai penolong persalinan, sering kali dihadapkan dengan keadaan bayi lahir mengalami asfiksia. Dimana asfiksia dapat menyebabkan cacat mental, pneumonia, dan kematian. Dalam keadaan demikian Bidan harus melakukan tindakan tertentu agar BBL dapat bernafas spontan segera mungkin. Untuk dapat melakukan tindakan tersebut , Bidan harus trampil dan kompentensi dalam manajen asfiksia BBL dan juga diperlukan perawatan yang intensif. Maka pada kesempatan ini penulis tertarik untuk memberikan asuhan dengan asfiksia sedang

  1. TUJUAN
  1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi dengan asfiksia sedang secara komprehensif
  1. Tujuan Khusus
Setelah menyusun asuhan kebidanan ini diharapkan mahasiswa dapat :
  1. Mengkaji data bayi dengan asfiksia sedang.
  2. Mengidentifikasi diagnosa/masalah bayi dengan asfiksia sedang.
  3. Mengantisipasi diagnosa/maasalah potensial bayi dengan asfiksia sedang.
  4. Mengidentifikasi kebutuhan segera pada bayi dengan asfiksia sedang
  5. Melaksanakan rencana asuhan pada bayi dengan asfiksia sedang.
  6. Mengevaluasi hasil pelaksanaan tindakan.




  1. MANFAAT PENULISAN
Diharapkan dengan penulisan makalah ini mahasiswa dapat mengidentifikasi tentang Asfiksia Neonatorum pada bayi baru lahir serta penanganannya.























BAB II
TINJAUAN TEORI
  1. Konsep Dasar
  1. Pengertian
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur dalam 1 menit setelah lahir.
  1. Etiologi
Biasanya terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu dengan komplikasi, misalnya DM,PEB, eritroblastosis fetalis, kelahiran kurang bulan.
  • Terjadi apabila saat lahir bayi mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga kekurangan persediaan O2 dan kesulitab pengeluaran CO2.
  • Faktor yang terdapat pada janin / bayi karena sperti adanya gangguan aliran tali pusat yang menumbung, tali pusat melilit leher.
  • Terjadinya depresi pernapasan bayi karena obat / analgetik yang diberikan pada ibu.
  • Adanya gangguan tumbuh kembang intrauterin dan kelainan bawaan (aplasia paru, atresia saluran napas).
  1. Patofisiologi
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2 terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.
Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi memasuki periode apneu primer.
Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid). Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder. Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.

(Sumber : A.H Markum. Buku Ajar IKA Jilid I : 1991 : 261)


  1. Tanda dan Gejala
  • Distes pernafasan (Apnu / megap-megap)
  • Detak jantung
  • Refleks / respons bayi lemah
  • Tonus otot menurun
  • Warna kulit biru / pucat
  1. Penatalaksanaan
  • Resultasi dengan langkah mengikuti ABC yang meliputi:
A : Pertahankan jalan napas bebas, jika perlu dengan intubasi endotrakeal.
B : Bangkitkan napas spontan dengan stimulasi taksil dan tekanan positif menggunakan bag and mask atau lewat pipa endotrakeal.
C : Pertahankan sirkulasi jika perlu dengan kompresi dada dan obat-obatan
  • Berdasarkan skor apgar menit pertama, asfiksia pada neonatus dibagi menjadi :
a. Asfiksia ringan : Skor apgar 4 – 6
Pada asfiksia ringan, berikan bantuan napas dengan oksigen 100% melalui bag and mask selama 15 – 30 detik.
b. Asfiksia berat : Skor apgar 1 – 3
Pada asfiksia berat dapat mencetuskan syok kardiogenik. Pada keadaan ini diberikan dopamin per infus 5 – 20 mg/KgBB/mnt.
  1. Komplikasi
Edema total, perdarahan otak, anusia dan oliguria, hiperbilirubinumia, enterokolitis, nekrotikans, kejang, koma. Tindakan bag and mask berlebihan dapat menyebabkan pneumotoraks.


  1. Prognosis
a. Asfiksia Ringan : Tergantung pada kecepatan penatalaksanaan.
b. Asfikisia Berat : Dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan saraf.
Asfiksia dengan PH 6,9 dapat menyababkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis permanen, misalnya retardasi mental.
  1. Pemeriksaan Penunjang
  • Laboratorium
Biasanya ditemukan menurunya kadar hematokrit dan peninggian trombosit akibat hiperaktivitas sumsum tuklang.
  • Laboratorium
Untuk menunjukan adanyan cairan spinal yang bercampur darah atau xantokrom disertai dengan peninggian jumlah sel darah merah dan protein, serta penurunan glukosa.
  • USG
Untuk memantau berbagai perubahan yang terjadi akibat perdarahan.
  1. Manajemen Asfiksia Neonatorum

  1. ASUHAN KEBIDANAN
  1. Pengkajian
  • Identitas klien / bayi dan keluarga
  • Riwayat kehamilan ibu dan persalinan ibu
  • Pengukuran hasil nilai apgar score
Klasifikasi klinik nilai APGAR :
  1. Asfiksia berat ( nilai APGAR 0-3)
Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen terkendali. Karena selalu disertai asidosis, maka perlu diberikan natrikus bikarbonat 7,5% dengan dosis 2,4 ml per kg berat badan, dan cairan glucose 40%1-2 ml/kg berat badan, diberikan via vena umbilikalis.
  1. Asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6).
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernafas kembali.
  1. Bayi normal atau asfiksia ringan ( nilai APGAR 7-9).
  2. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
Asfiksia berat dengan henti jantung, dengan keadaan bunyi jantung menghilang setelah lahir, pemeriksaan fisik yang lain sama dengan asfiksia berat.
  • Pengkajian dasar data neotalus
  1. Sirkulasi
  • Nadi apical mungkin cepat/tidak dan teratur/tidak.
  • Murmur jantung yang dapat didengar.
  1. Neurosensori
  • Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak buncit.
  • Ukuran kepala besar dalam hubungan dengan tubuh, sutura mungkin mudah digerakkan, fontanel mungkin besar.
  • Reflek tergantung pada usia gestasi.
  1. Pernapasan
  • Nilai apgar mungkin rendah
  • Pernapasan mungkin dangkal, tidak teratur
  • Mengorok, pernapasan cuping hidung, retrakasi suprasternal
  • Adanya bunyi mengi selama fase inspirasi dan ekspirasi
  • Warna kulit
  1. Keamanan
  • Suhu berfluktuasi dengan mudah
  • Menangis mungkin lemah
  • Menggunakan otot-otot bantu napas
  1. Makanan / Cairan
Berat badan kurang dari 2500 gr

  1. Diagnosa Keperawatan
  1. Pola napas tidak efektif
  2. Kerusakan pertukaran gas

  1. Intervensi Keperawatan
  1. Pola Napas Tidak Efektif
  • Penghisapan selang endotrakeal sebelum pemberian surfaktan untuk memastika bahwa jalan napas bersih
  • Hindari penghisapan sedikitnya 1 jam setelah pemberian surfaktan untuk meningkatkan absorpsi ke dalam alvelolar
  • Observasi peningkatan pengembangan dada setelah pemberian surfaktan.
  • Turunkan pengaturan, ventilator, khususnya tekanan inspirsi puncak dan oksigen untuk mencegah hipoksemia dan distensi pau yang berlebihan.
  • Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obat-obatan yag dapat memperberat depresi pernafasan pada bayi
  1. Kerusakan Pertukaran Gas
  • Pantau masukan dan haluasan cairan ; timbang berat badan sesuai indikasi
  • Tingkatkan istirahat minimal rangsangan dan penggunaan energi
  • Pantau jumlah pemberian oksigen dan durasi pemberian
  • Berikan makanan dengan selang nasogastrik / orgastrik sebagai pengganti pemberian makan dnegan ASI bila tepat.
  • Observasi tanda dan lokasi sianosis.
  1. Evaluasi
  • Meningkatkan fungsi pernapasan optimal
  • Mencegah / menurunkan resiko terhadap potesial komplikasi
  • Kerusakan pertukaran gas tidak terjadi
Klasifikasi klinik nilai APGAR:
  1. Asfiksia berat ( nilai APGAR 0-3)
Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen terkendali. Karena selalu disertai asidosis, maka perlu diberikan natrikus bikarbonat 7,5% dengan dosis 2,4 ml per kg berat badan, dan cairan glucose 40%1-2 ml/kg berat badan, diberikan via vena umbilikalis.
  1. Asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6).
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernafas kembali.
  1. Bayi normal atau asfiksia ringan ( nilai APGAR 7-9).
  2. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
Asfiksia berat dengan henti jantung, dengan keadaan bunyi jantung menghilang setelah lahir, pemeriksaan fisik yang lain sama dengan asfiksia berat.

  1. Pemeriksaan Diagnostik
  1. Analisa gas darah ( PH kurang dari 7,20 )
  2. Penilaian APGAR Score meliputi (Warna kulit, frekuensi jantung, usaha nafas, tonus otot dan reflek)
  3. Pemeriksaan EEG dan CT-Scan jika sudah timbul komplikasi
  4. Pengkajian spesifik

  1. Penatalaksanaan
Tujuan utama mengatasi asfiksia adalah untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan membatasi gejala sisa (sekuele) yang mungkin timbul di kemudian hari. Tindakan yang dikerjakan pada bayi lazim disebut resusitasi bayi baru lahir.
Sebelum resusitasi dikerjakan, perlu diperhatikan bahwa :
  1. Faktor waktu sangat penting. Makin lama bayi menderita asfiksia, pertumbuhan homeostasis yang timbul makin berat. Resusitasi akan semakin sulit dan kemungkinan timbulnya sekuele akan meningkat
  2. Kerusakan yang timbul pada bayi akibat anoksia/ hipoksia antenatal tidak dapat diperbaiki, tetapi kerusakan yang akan terjadi karena anoksia/hipoksia paska natal harus dicegah dan diatasi.
  3. Riwayat kehamilan dan persalinan akan memberikan keterangan yang jelas tentang faktor penyebab terjadinya depresi pernafasan pada bayi baru lahir
  4. Penilaian bayi baru lahir perlu dikenal baik, agar resusitasi yang dilakukan dapat dipilih dan ditentukan secara cepat dan tepat.
Prinsip dasar resusitasi yang perlu diingat adalah:
  1. Membersihkan lingkungan yang baik pada bayi dan mengusahakan saluran pernafasan tetap bebas serta merangsang timbulnya pernafasan, yaitu agar oksigenasi dan pengeluaran CO2 berjalan lancar.
  2. Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi yang menunjukkan usaha pernafasan lemah.
  3. Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi
  4. Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik.
Tindakan Umum :
  1. Pengawasan suhu tubuh
Pertahankan suhu tubuh agar bayi tidak kedinginan, karena hal ini akan memperburuk keadaan asfiksia.Bayi baru lahir secara relative banyak kehilangan panas yang diikuti oleh penurunan suhu tubuh. Penurunan suhu tubuh akan mempertinggi metabolisme sel sehingga kebutuhabn oksigen meningkat. Perlu diperhatikan agar bayi mendapat lingkungan yang hangat segera setelah lahir. Jangan biarkan bayi kedinginan (membungkus bayi dengan kain kering dan hangat), Badan bayi harus dalam keadaan kering, jangan memandikan bayi dengan air dingin, gunakan minyak atau baby oil untuk membersihkan tubuh bayi. Kepala ditutup dengan kain atau topi kepala yang terbuat dari plastic
  1. Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas atas dibersihkan dari lendir dan cairan amnion dengan pengisap lendir, tindakan ini dilakukan dengan hati- hati tidak perlu tergesa- gesa atau kasar. Penghisapan yang dilakukan dengan ceroboh akan timbul penyulit seperti: spasme laring, kolap paru, kerusakan sel mukosa jalan nafas. Pada asfiksia berat dilakukan resusitasi kardiopulmonal.
  1. Rangsangan untuk menimbulkan pernafasan
Bayi yang tidak memperlihatkan usaha bernafas selama 20 detik setelah lahir dianggap telah menderita depresi pernafasan. Dalam hal ini rangsangan terhadap bayi harus segera dilakukan. Pengaliran O2 yang cepat kedalam mukosa hidung dapat pula merangsang reflek pernafasan yang sensitive dalam mukosa hidung dan faring. Bila cara ini tidak berhasil dapat dilakukan dengan memberikan rangsangan nyeri dengan memukul kedua telapak kaki bayi.

Therapi cairan pada bayi baru lahir dengan asfiksi
Tujuan Pemberian Cairan untuk Bayi Baru Lahir dengan asfiksia
  1. Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan
  2. Memberikan obat- obatan
  3. Memberikan nutrisi parenteral
  4. Keuntungan dan kerugian therapy Cairan


Keuntungan :
  1. Efek therapy segera tercapai karena penghantaran obat ketempat target berlangsung cepat
  2. Absorbsi total, memungkinkan dosis obat lebih tepat dan therapy lebih dapat diandalkan.
  3. Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek therapy dapat dipertahankan maupun dimodifikasi.
  4. Ras sakit dan iritasi obat- obat tertentu jika diberikan intramuscular dan subkutan dapat dihindari.
  5. Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorpsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinal.
Kerugian :
  1. Resiko toksisitas/anapilaktik dan sensitivitas tinggi
  2. Komplikasi tambahan dapat timbul :
  • Kontaminasi mikroba melalui sirkulasi
  • Iritasi vaskuler ( spt phlebitis )
  • Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.

Peran Perawat terhadap Therapi Cairan pada bayi baru lahir dengan asfiksia
  1. Memastikan tidak ada kesalahan maupun kontaminasi cairan infuse maupun kemasannya.
  2. Memastikan cairan infuse diberikan secara benar (pasien, jenis cairan, dosis, cara pemberian dan waktu pemberian)
  3. Memeriksa kepatenan tempat insersi
  4. Monitor daerah insersi terhadap kelainan
  5. Mengatur kecepatan tetesan sesuai dengan program
  6. Monitor kondisi dan reaksi pasien
BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, penyebab asfiksia diantaranya aliran oksigen ke janin berkuarang,akibatnya terjadi gawat janin,kemudian terjadi lilitan pada tali pusat,tali pusat pendek, simpul tali pusat,keadaan bayi prematur, persalinan sulit , kelainan kongenital , air ketuban bercampur mekonium. Penatalaksanaannya yaitu melakukan resusitasi pada bayi baru lahir.

  1. Saran
Diharapkan sepanjang kehamilan ibu memeriksakan kehamilannya terutama apabila ibu merasakan sesuatu yang tidak sewajarnya, dianjurkan juga untuk USG guna mengetahui janin beserta letak tali pusatnya.














DAFTAR PUSTAKA

Kirana pritasari, 2008. Asuhan Persalinan Normal. Edisi 2008 : Jakarta
Prawirohardjo Sarwono,SpOG ,2005.Ilmu Kebidanan.Edisi ketiga : Jakarta
http : //www.Suaramerdeka.Com/harian/0308/11/ragam5.htm.



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar